Popular Posts

Guru Besar UGM Jelaskan Obat yang Tidak Boleh Diminum Bersamaan, Apa Saja?

ilustrasi obat. Beberapa obat yang sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan.

ilustrasi obat. Beberapa obat yang sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan.© canva.com

KOMPAS.com – Sebuah unggahan di media sosial menyebutkan beberapa jenis obat yang tidak boleh dikonsumsi bersamaan.

Unggahan tersebut mengatakan ada dampak atau efek samping jika mengonsumsi obat-obatan jenis tertentu dalam waktu bersamaan.

“Awas, bahaya jika obat ini diminum bersamaan. Obat jamur dengan obat asam lambung, obat hipertensi dengan obat kolesterol, obat maag dengan obat gula, obat tambah darah dengan obat maag,” tulis akun Instagram @jur******** pada Selasa (21/10/2025).

Free Domain with Hosting - Secure Hosting, Low Prices - Fast & Secure Web Hosting

Free Domain with Hosting – Secure Hosting, Low Prices – Fast & Secure Web Hosting

hostinger.com·Bersponsor

call to action icon

Lantas, benarkah terdapat obat yang tak boleh dikonsumsi bersama? Apa sajakah obat-obatan tersebut?

Baca juga: Dokter Bedah di India Diduga Bunuh Istrinya dengan Obat Anestesi

Beberapa obat bisa saling berinteraksi

Guru Besar di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati mengungkapkan beberapa obat memang dapat saling berinteraksi jika digunakan bersama.

“Ya, beberapa obat memang bisa saling berinteraksi dengan obat lain jika digunakan bersama,” kata Zullies ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (5/11/2025).

Namun, Zullies menekankan, bahwa tidak semua kombinasi obat yang dilarang memiliki tingkat bahaya yang sama.

“Ada banyak faktor yang menentukan, seperti dosis obat, kondisi pasien, fungsi ginjal atau hati, serta obat lain yang dikonsumsi,” kata Zullies.

Selain itu, Zullies menekankan, tidak seluruh interaksi obat bermakna klinis.

Artinya, meski dua obat saling berinteraksi, hal itu belum tentu menimbulkan perubahan efek terapi atau efek toksik yang signifikan pada pasien hingga memerlukan penyesuaian dosis, pemantauan ketat, atau penghentian salah satu obat.

Chatgpt Ai Humanizer - Honest Insights, No Bias - No Bias, Just Insights!

Chatgpt Ai Humanizer – Honest Insights, No Bias – No Bias, Just Insights!

aihumanizers.substack.com·Bersponsor

call to action icon

“Tidak semua interaksi obat memiliki arti klinis. Yang dianggap penting adalah interaksi yang mengubah outcome klinis pasien, misalnya menurunkan efektivitas terapi atau meningkatkan risiko efek samping serius,” ujarnya.

Baca juga: Obat Herbal Asal Indonesia Ditarik di Kaledonia Baru, Ini Penjelasan BPOM

Mekanisme penyebab kombinasi obat bisa bermasalah

Zullies menyebut beberapa mekanisme penyebab kombinasi obat dapat bermasalah. Berikut di antaranya:

  • Satu obat dapat mengubah cara tubuh menyerap obat lain: contohnya adalah obat lambung atau antacid yang mengubah pH lambung, membuat obat lain kurang atau terlambat diserap.
  • Satu obat dapat menghambat atau mempercepat pemecahan obat lain di hati yang memengaruhi enzim metabolisme: dapat membuat kadar obat terlalu tinggi atau risiko efek samping meningkat.
  • Dua obat dapat memiliki efek yang sama dan terakumulasi sehingga efeknya terlalu kuat: contohnya pada dua obat yang menurunkan tekanan darah, jika dikonsumsi bersama bisa membuat tekanan darah terlalu rendah.
  • Satu obat dapat mengurangi efektivitas obat lain: menyebabkan penyakit tidak terkendali.

Baca juga: AS Tarik Obat Penurun Kolesterol Atorvastatin dari Peredaran, Apa Penyebabnya?

Contoh obat yang berisiko apabila dikonsumsi bersamaan di antaranya adalah:

1. Obat jamur dengan obat lambung

Zullies mengatakan bahwa obat jamur dan obat lambung tidak bisa digunakan bersama. Contoh obat lambung adalah obat asam lambung, antacid, PPI, dan H2 blocker.

Sementara itu, obat jamur jenis azol seperti itraconazole sangat bergantung pada pH lambung. Penyerapan obat tersebut bisa terganggu jika pH lambung naik.

Akibatnya, obat jamur tersebut bisa kurang efektif serta jamur menjadi lebih sulit diobati. Efek samping jenis tersebut bisa menyebabkan gagal terapi.

Baca juga: BPOM Pastikan Obat Atorvastatin yang Ditarik di AS Tak Beredar di Indonesia

2. Obat hipertensi dengan obat kolesterol (statin)

Zullies menjelaskan, kombinasi obat hipertensi dan obat kolesterol sebenarnya cukup biasa dilakukan, sebab banyak pasien memiliki tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi.

“Penelitian menunjukkan ketika statin dan obat tekanan darah diminum bersamaan, secara umum tidak ditemukan interaksi yang berbahaya atau berdampak signifikan terhadap keamanan pasien,” kata Zullies.

Maka dari itu,  gabungan obat tersebut secara umum tidak dilarang.

Namun, Zullies menekankan, sebaiknya tetap ada pengawasan terhadap adanya efek samping atau perubahan kadar darah. Efek samping yang dapat muncul bisa berupa kerusakan otot (miopati) atau gangguan hati. 

Baca juga: AS Tarik Obat Penurun Kolesterol Atorvastatin dari Peredaran, Apa Penyebabnya?

3. Obat tambah darah dengan obat maag

Obat tambah darah seperti suplemen besi dengan obat lambung atau obat maag juga kemungkinan timbul interaksi.

“Misalnya besi bisa kurang terserap jika pH lambung berubah, atau ada obat lambung yang menghambat penyerapan besi,” kata Zullies.

Bahaya tersebut bukan merupakan bahaya langsung, namun bisa membuat obat tambah darah tidak optimal.

Zullies mengatakan bahwa tidak semua kombinasi obat yang disebut di media sosial tidak boleh digunakan bersamaan atau secara absolut dilarang.

“Banyak kombinasi bisa aman jika dipantau oleh dokter atau apoteker,” katanya.

Ia menekankan pentingnya melihat jenis obat secara spesifik, serta dosisnya, fungsi ginjal atau hati pasien, obat-obatan lain yang dipakai, serta waktu pemberian.

“Informasi dari media sosial sering kali terlalu umum atau dipotong sehingga bisa menimbulkan kekhawatiran berlebihan,” pungkasnya.

Baca juga: Dokter Bedah di India Diduga Bunuh Istrinya dengan Obat Anestesi

SUMBER: Guru Besar UGM Jelaskan Obat yang Tidak Boleh Diminum Bersamaan, Apa Saja?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *